PERANAN LITERATUR




PERANAN LITERATUR
DALAM REKONSTRUKSI NASIONAL DAN KEMAJUAN INTELEKTUAL
By. Syed Habibul Haq Nadvi




Kesadaran nasional dan kebangunan intelektual selalu merupakan dorongan utama pembangunan nasional dan renaisans dalam kehidupan material maupun spiritual umat manusia.

Peranan literatur dalam membangunkan kesadran nasional tidak pernah terbantahkan, baik di dunia Barat maupun Timur. Cendekiawan studi perbandingan, tentunya sangat menyadari kenyataan ini. Eropa modern muncul sebagai pimpinan dalam semua bidang kehidupan, hanya setelah renaisans-nya dirangsang oleh minat khusus dan kajian-kajian yang dalam terhadap karya klasik Yunani dan Latin, yang membuka cakrawala gagasan baru di setiap cabang pemikiran manusia, baik humanika maupun ilmu pengetahuan. Kita tidak asing lagi dengan kenyataan betapa Divine-Comedy karya Dante begitu merangsang Italia, dan belakangan Renaisans Eropa. Bangunnya Inggris di abad ke tujuh belas dan delapan belas disebabkan oleh peran penting cendekiawan. Renaisans Jerman dan Prancis juga diilhami oleh para pujangga, pemikir dan filsuf.

Halnya dengan renaisans timur. Bagi semua bentuk kemajuan, membangunkan kembali jiwa sudah merupakan keharusan. Karena literatur berakar pada jiwa manusia, maka dia menerobos batas-batas ruang dan waktu. Selama ada jiwa, rasa dan emosi, maka literatur pasti tumbuh. Para hamba pena yang tulus berusaha menata kembali masyarakat sesuai dengan dorongan jiwanya. Literatur adalah memberi nafas kembali kaum yang mati. Menyulut kembali dian iman dan menyuntikkan harapan dalam kaum-kaum yang sakit.

Literatur juga sanggup memainkan peran sosial dan moral. Kaum mistik yang mempunyai kepekaan dalam untuk menerawang keindahan dan kebenaran, di satu pihak, dan para pemikir sosial yang sangat rindu untuk membangun kembali masyarakat, di pihak lainnya, dapat mereka lampiaskan melalui literatur.

Pemasungan Literatur

Elit-elit ilmiah baik di barat maupun di Timur, terus melakukan gempuran-gempuran besar-besaran terhadap literatur dengan menyatakan bahwa rahasia kemajuan nasional terletak pada kemajuan ilmiah, tekhnologi dan industri. Dan bukannya pada literatur, yang membuat bangsa kehilangan imajinasi dan terlalu emosional. Studi literatur mereka hanya kepuasan rasa, serapan-serapan imajinatif dan sensasi-sensasi khayali.

Pemasungan literatur bukan barang baru. Hal ini dimulai sejak adanya dialektika antara Plato dan Aristoteles mengenai peranan dan fungsi literatur. Teori imitasi Plato bertentangan dengan teori Aristoteles yang menyatakan bahwa, seorang seniman adalah pencipta dan bukan penjiplak atau pelukis, yang membuat kopi dari aslinya, seperti yang diduga Plato. Plato beranggapan bahwa, seni tidaklah menggugah rasio, melainkan emosi. Bagi Plato puisi justru menyemai nafsu, bukan mematikannya; bahwa puisi merusak watak manusiawi dan membangkitkan anarkhi dalam jiwa dengan mencuatkan nafsu-nafsu rendah, menindas nafsu-nafsu luhur dan dengan meruntuhkan rasio demi rasa.

Aristoteles menentang keras argumentasi tersebut dan dengan serius mempertahankan seni rupa. Aristoteles mempertahankan dan membeli nilai seni rupa yang steril. Dia menyatakan bahwa, emosi harus memiliki jalan penyaluran yang sehat, mudah dan teratur, karena rasa-rasa terpendam yang tak tersalurkan akan meledak dalam tindak irrasional yang dahsyat. Ia berkilah bahwa bagian emosi dari jiwa tidak harus dimatikan atau dirampas, dan manusia perlu asyik dengan rasa yang akan memelihara fitrah insani.

Pertikaian-pertikaian abad ke empat sebelum masehi ini menyita perhatian perhatian pemikir Barat untuk jangka waktu yang lama. Diskusi-diskusi mengenai teori didaktik Platonis dengan estetika Aristoteles membangkitkan pertentangan tak terpecahkan mengenai arti dan peranan literatur, yakni seni untuk seni atau seni untuk hidup, yang mendominasi jalannya kritik literatur baik di Barat maupun di Timur.

Di zaman modern, pembelaan puisi oleh Shelley (1792-1822), pujangga Romantis Inggris, patut kita ketengahkan. Karyanya yang termasyhur A Defence of Poetry (1840) mengubah iklim literatur eropa yang baru saja dinodai oleh pendapat-pendapat irnis dan skeptis Peacock mengenai seni dan puisi. Dalam karyanya Four Ages of Poetry, Peacock mengklaim bahwa pujangga adalah perancang kejalangan. Shelley mengecam pendapat Peacock ini dan mengatakan bahwa puisi adalah, wakil dari tindak keinginan kehidupan nuraniah kita yang lebih langsung dan syair adalah bayang-bayang kehidupan hakiki yang mencuat dalam kebenarannya yang langgeng ... dan puisi menyingkap tabir keindahan dunia yang tersembunyi. Dia menulis bahwa puisi menjadikan langgeng semua yang terbaik dan terindah di dunia dan menambah keindahan bagi hal yang rusak. Shelley menyimpulkan pembelaannya dengan kata-katanya yang terkenal; “puisi adalah pembuat undang-undang dunia yang tidak dikenal”.

Di balik semua silang pendapat serta pemasungan literatur tersebut, eropa modern telah bergerak ke arah sikap yang menggembirakan terhadap literatur. Teori terbaru, “Tidak akan ada studi gejala sosial di negara mana pun yang tuntas tanpa adanya pengertian terhadap literatur yang dihasilkan dan dibaca di dalamnya ...”, menjadi prinsip penuntun Eropa di bidang ini. Karena itulah kita menemukan kenyataan bahwa, titik berat studi saat kini diarahkan ke kajian bahasa dan literatur-dalam zaman peradaban ilmiah yang sudah uzdur ini.

Sikap terhadap literatur ini sangatlah asing bagi Timur yang sedang terlena menjiplak perkembangan dan kemajuan ilmiah Barat. Literatur pada umumnya dan puisi pada khususnya, dianggap sebagai gemuruh hiperbolis pujangga dan imajinasi kaum kuli tinta. Literatur dianggap sebagai bahan canda, kesenangan dan gemilang kemewahan masa lalu. Di Timur ini, literatur tengah menjadi bahan tertawaan, yang sama sekali tidak berperan dalam rekonstruksi nasional.

Timur Muslim, yang membela renaisansnya hanya berdasarkan kemajuan ilmu dan industri, tidak bisa menyaksikan hakikat kemajuannya, kecuali jika kepercayaan nasional terhadap literatur dan seni rupa dipulihkan, batasan diperbaharui, ketidakterbatasan ditegaskan kembali dan teori “tidak ada literatur, tidak ada bangsa” dikembangkan. Literatur menyatukan bangsa dan mengangkat kelanggengannya, karena menjadi tolakukur kehidupan intelek. Bangsa-bangsa tanpa literatur telah dipulihkan.

Kemalasan besar-besaran untuk Studi di kalangan orang-orang Arab, Persia dan Turki di Timur Muslim.

Benar bahwa, telaah-telaah terhadap kekayaan terpendam karya klasik Yunani dan Latin telah membantu Eropa meremajakan diri. Mengilhami renaisans-nya. Dan hampir dapat dipastikan bahwa bahwa Timur Muslim dapat bangkit lagi jika kekayaan-kekayaan literatur digali kembali., keindahan ruhaniahnya disingkapkan.

Akan tetapi sayngnya studi literatur dianggap pemborosan waktu, langkah surut dan tanda kemunduran. Tuntutan pertama untuk proyek-proyek riset Timur Islam adalah ilmu yang memadai tentang bahasa dan literatur. Dan sungguh mengejutkan bahwa para guru filsafat Islami, sejarah Islam, pemikir politis Muslim, mengajarkan masalah tanpa mengetahui bahasa asli yang terlibat. Bagaimana kiranya dapat dikembangkan pengajaran dan kemampuan standar untuk mengkaji sumber asli dalam kondisi semacam ini ?. karenanya tak heran jika mutu pengajaran dan hasil riset di bidang-bidang ini akan memupuk rasa ketergantungan terhadap kaum Orientalis atau, dengan kata lain, bergantung pada sumber-sumber sekunder.

Harus diakui bahwa, sedikit sekali, atau bahkan tidak ada, cabang telaahan Islam yang belum dieksplorasi oleh kaum Orientalis. Jasa-jasa mereka patut dipuji kendati pendekatan mereka terhadap masalah ini mungkin berbeda dari sudut pandang Muslim. Diakui atau tidak, para cendekiawan Muslim selalu mendasarkan ilmunya pada riset-riset dan penemuan-penemuan kaum Orientalis.

Kegetiran lain adalah bahwa pengajaran literatur tersebut di Timur telah berkurang martabatnya menjadi translasi-translasi monoton dari naskah-naskah Abad Pertengahan atau Klasik, prosa atau puisi. Pengajaran bahasa juga mengalami titik balik, karena para cendekiawan masa kini tidak turut terjun dan berpacu dengan lajunya waktu kecenderungan-kecenderungan yang terus menerus berubah dan gerakan-gerakan baru dalam bahasa.

Yang lebih malang lagi adalah bahwa, para cendekiawan agama kita tidak hanya mengabaikan tetapi menganggap diskusi literatur bukan bidangnya. Cukup aneh jika kita temukan diskusi-diskusi mengenai bahasa dan literatur dalam buku-buku mengenai Islam. Kenyataannya, memang tidak ada media penyaluran pendapat yang dapat menanamkan iklim keimanan, khususnya di zaman modern yang lebih dari seni imajinatif dan plastis ini.

Marksisme dan gerakan-gerakan sesat lainnya telah menghantam tanah-tanah Muslim melalui alat-alat literatur; puisi, drama, fiksi, novel dan cerita pendek. Rekonstruksi nasional mustahil terwujud kecuali jika bahasa dan literatur di dunia Islam diperhatikan secepat mungkin. Semoga





Jelajah Pustaka Lama


0 Comments:

Post a Comment